Langkah Besar SMAMDUMA: Terpilih Jadi Sekolah Contoh
Meneguhkan Komitmen SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang dalam Implementasi Kurikulum Pendidikan Muhammadiyah
Ahad,
9 Agustus 2026 SMAMDUMA bersama 7 sekolah lainnya (SD Muhammadiyah 24, SD Muhammadiyah 49, SMP Muhammadiyah 26, SMP
Muhammadiyah 35, SMA Muhammadiyah 3, SMK Muhammadiyah 1 dan SMK Muhammadiyah
12) secara resmi dikukuhkan sebagai sekolah contoh oleh Majelis Dikdasmen PWM
DKI Jakarta
Pengukuhan
tersebut menjadi sebuah momentum penting bagi dunia pendidikan Muhammadiyah,
khususnya bagi kedelapan sekolah yang dipercaya untuk menjadi sekolah contoh.
Kepercayaan ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi atas berbagai upaya dan
praktik baik yang telah dilakukan, tetapi juga menjadi tanggung jawab untuk
terus bertumbuh, berinovasi, dan memberikan inspirasi bagi sekolah-sekolah
lainnya.
Pendidikan
tidak pernah berhenti di ruang kelas. Ia tumbuh melalui gagasan, pengalaman,
kolaborasi, dan keberanian untuk terus melakukan perubahan. Sekolah yang ingin
maju bukan hanya sekolah yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi
sekolah yang bersedia belajar, mengevaluasi diri, dan membagikan praktik baik
agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Semangat
tersebut terasa dalam Workshop Sekolah Contoh Implementasi Kurikulum Pendidikan
Muhammadiyah yang dilaksanakan pada Sabtu–Minggu, 8–9 Agustus 2026, di Gedung
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Kegiatan yang
diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen PNF Muhammadiyah PWM DKI Jakarta bersama
Fakultas Ilmu Pendidikan UMJ ini menjadi ruang belajar, berdiskusi, dan
bertukar pengalaman bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah dalam memperkuat
implementasi pendidikan yang berkemajuan.
Sekolah Contoh: Amanah untuk Terus Bertumbuh
Bagi SMA
Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang, keterlibatan dalam kegiatan ini memiliki
makna yang lebih dari sekadar menghadiri sebuah workshop. Sebagai salah satu
sekolah contoh Muhammadiyah, sekolah kami menerima amanah untuk terus belajar
dan berkembang, sekaligus menjadi bagian dari upaya menghadirkan praktik
pendidikan yang dapat menginspirasi sekolah lainnya.
Menjadi
sekolah contoh bukan berarti menjadi sekolah yang paling sempurna. Justru,
predikat tersebut mengajarkan bahwa sekolah harus senantiasa terbuka terhadap
evaluasi dan gagasan baru. Sekolah contoh adalah sekolah yang mau berjalan
lebih dahulu, mencoba, merefleksikan hasilnya, lalu berbagi pengalaman agar
sekolah lain dapat mengambil pelajaran dan mengembangkannya sesuai dengan
karakter masing-masing.
Ketika Kurikulum Tidak Hanya Berhenti di Atas Kertas
Salah satu
hal penting yang kembali ditegaskan melalui kegiatan ini adalah bahwa kurikulum
tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif. Kurikulum akan menemukan
maknanya ketika ia hidup dalam proses pembelajaran, budaya sekolah, pembentukan
karakter, dan pengalaman nyata peserta didik.
Dalam konteks
pendidikan Muhammadiyah, implementasi kurikulum juga menjadi ruang untuk
memperkuat identitas pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan
Kemuhammadiyahan. Peserta didik tidak hanya dipersiapkan agar memiliki
pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memiliki akhlak, kepedulian,
kemandirian, kemampuan berpikir, serta kesiapan menghadapi perubahan zaman.
Tantangan
pendidikan hari ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi, derasnya arus
informasi, perubahan sosial, dan kebutuhan generasi masa kini menuntut sekolah
untuk terus beradaptasi. Namun, kemampuan beradaptasi tidak berarti kehilangan
jati diri. Justru di situlah sekolah Muhammadiyah memiliki peran penting:
menghadirkan pendidikan yang modern dan relevan, tetapi tetap memiliki akar
nilai yang kuat.
Belajar Bersama, Bergerak Bersama
Workshop
selama dua hari juga memperlihatkan bahwa kemajuan pendidikan tidak dapat
dibangun secara individual. Setiap sekolah memiliki tantangan dan karakteristik
yang berbeda, tetapi pengalaman dapat menjadi jembatan untuk saling menguatkan.
Diskusi, berbagi praktik, refleksi, dan kebersamaan menjadi bagian penting
dalam membangun jejaring pendidikan yang sehat.
Bagi guru,
ruang seperti ini bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga
kesempatan untuk melihat kembali praktik yang selama ini dilakukan. Apa yang
sudah baik perlu dipertahankan, apa yang masih kurang perlu diperbaiki, dan apa
yang belum pernah dicoba dapat menjadi peluang untuk berinovasi.
Semangat
berbagi inilah yang diharapkan dapat terus tumbuh di antara sekolah-sekolah
Muhammadiyah. Ketika satu sekolah menemukan sebuah praktik baik dan
membagikannya, sekolah lain dapat mengambil inspirasi, menyesuaikan, kemudian
melahirkan inovasi baru. Dari proses sederhana tersebut, perubahan yang lebih
besar dapat tumbuh secara kolektif.
Dari Dua Hari Menjadi Gerakan yang Lebih Panjang
Dua hari
kegiatan mungkin terlihat singkat, tetapi gagasan yang lahir di dalamnya dapat
menjadi awal dari perjalanan yang panjang. Pengetahuan yang diperoleh perlu
dibawa kembali ke sekolah, dibicarakan bersama, kemudian diterjemahkan menjadi
langkah nyata yang berdampak bagi peserta didik.
Bagi SMA
Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang, menjadi sekolah contoh adalah sebuah titik
awal untuk terus meningkatkan kualitas guru, memperkuat budaya belajar,
mengembangkan inovasi, dan memberikan pengalaman pendidikan yang bermakna. Kami
menyadari bahwa perjalanan ini masih panjang. Namun, justru kesadaran tersebut
menjadi alasan untuk tidak berhenti belajar.
Menjadi Contoh dengan Terus Memberi Contoh
Pada
akhirnya, sekolah contoh bukan tentang siapa yang paling sempurna, melainkan
siapa yang bersedia terus belajar, berani melakukan perubahan, dan mau berbagi.
Kami berharap langkah yang dilakukan SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang
dapat menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar—gerakan pendidikan
Muhammadiyah yang saling menguatkan, berakar pada nilai, adaptif terhadap
zaman, dan berorientasi pada kemajuan peserta didik.