CerpenPerahu Kecil Tanpa Bendera
Oleh: Difa Carissa Fahlevi (Kelas XII Tahfiz)
Pantai Saramom, Pulau Biak — 1990
Perahu mulai berayun mengikuti gulungan ombak, membelah belantara laut. Di bibir pantai, om berjongkok dekat tungku kecil, membolak-balik ikan bakar di atas bara. Api merah menyala, menari di antara asap yang perlahan larut dibawa angin.
"Ko lihat asap di sana," tunjuk bapak, mengarah pada kepulan putih pekat asap. "Kalo asapnya condong ke barat, tanda Timur Laut su mulai bicara. Sore nanti ombak tra main-main punya, tinggi betul."
Om terkekeh pelan, mengipasi bara dengan daun kelapa kering tanpa mengalihkan pandangan dari ikan yang mulai matang. Asap tipis merenda samar wajahnya.
Grasella mengangguk perlahan. Ia hanya melihat kilau jenaka di netra bapak, sisi yang nyaris tak ia kenali setiap kali bapak berangkat mengabdi pada negara.
Pandangannya jatuh ke arah laut di bawah geladak. Di antara gulungan ombak yang berkejaran, bayangan merah putih terpantul dari bendera di ujung perahu Bapak, bergoyang mengikuti irama air.
"Bapak, kenapa kitong pasang bendera di perahu?"
“Biar dong tahu, ini perahu orang baik-baik. Bukan perahu yang macam-macam." jawabnya, sembari mengikat tali jangkar.
Grasella terus terpaku pada pantulan bendera, warnanya terpecah setiap kali ombak menggulung lewat. Pandangannya menyapu perahu-perahu lain di sekitar mereka. Hanya perahu om yang tidak mengibarkan bendera merah putih.
“Kalo tra ada bendera?” tanya Grasella, menoleh pandangannya ke bapak.
Bapak tak langsung menjawab, menatap pada menara air berdiri di kejauhan, berdiri begitu tenang sebelum ditinggalkan luka yang menganga. “Ya begitulah, Nak. Orang harus tunjuk sa punya sesuatu biar dong percaya. Biar aman.”
Grasella tidak sepenuhnya mengerti kalimatnya, hanya menatap bendera merah putih yang terus pecah lalu utuh lagi. Merahnya menyatu dengan laut hingga pudar ditelan air yang terus bergerak.
Matanya menyipit. Laut yang biru itu perlahan tercemari oleh semburat merah yang pekat, melebar, seperti darah yang tumpah tanpa nama yang memilikinya. Mungkinkah salah satu pemiliknya adalah darah omnya—
Selasa, 4 Juli 2000
Ia tersentak ketika tubuh pesawat berguncang menembus lapisan atmosfer. Di balik jendela, laut dan perahu yang baru saja dikenangnya telah lenyap dari pandangan. Hanya awan putih yang membentang kosong. Ia melirik pantulan wajahnya di kaca jendela, sulit membayangkan wajah itu pernah menjadi gadis kecil yang dulu duduk di ujung perahu bapak.
Tawa bapak dari atas perahu itu seperti masih terdengar, meski laut telah lama hilang dari pandangan.
Jatuh matanya pada berkas dan dokumen yang ia pegang untuk dibaca dan ditulis selama penerbangan, map tebal bersampul licin dengan cap fotokopi yang belum sempat pudar.
Nama Tanpa Pusara, Pusara Tanpa Nama: Laporan Pelanggaran HAM di Biak, Irian Jaya.
Ia membuka map itu perlahan. Halaman-halaman awal berisi tanggal, lokasi, daftar nama saksi yang disamarkan dengan inisial.
Jarinya berhenti sejenak ketika nama Menara Air kembali muncul di antara halaman-halaman itu. Merah putih berkibar di atas menara dalam foto yang mulai pudar, seolah waktu boleh mengikis gambarnya, tetapi tidak apa yang pernah terjadi di bawahnya.
Di halaman selanjutnya, jemarinya gemetar saat melewati inisial nama omnya yang hingga kini tidak punya pusara. Di samping itu, tertulis singkat. “Aparat gabungan berjaga di sekitar Menara Air, 6 Juli 1998.” dengan keterangan fotonya. Ia menatap pada asap yang condong ke barat di tengah massa yang berunjuk rasa.
Ia menarik kertas-kertas di selipan dokumennya, lalu menelusuri deretan inisial aparat yang bertugas malam itu. Satu per satu, ia berusaha mengingat siapa saja yang mungkin belum ia catat.
Hingga akhirnya, jemarinya berhenti di tepian halaman terakhir. Ia menutup map itu perlahan, menghela napas panjang, lalu menatap awan kosong di luar jendela.
***
Rabu, 5 Juli 2000.
Kelurahan Saramom, Pulau Biak—2000
Kini rumahnya haanya berjarak lima langkah darinya. Berbeda dari menara air yang menyambutnya dengan harapan, begitu ia melangkah masuk ke ambang pintu rumah, yang menyambutnya hanyalah kesunyian.
Di ruang tamu, hanya ada mama yang sedang melipat pakaian di atas tikar, ditemani adiknya yang tertidur lelap. Di antara tumpukan-tumpukan pakaian, ia tidak melihat seragam dinas bapaknya.
Mama mengangkat wajah ketika Grasella melangkah masuk. Alisnya terangkat sekilas, lalu sudut bibirnya ikut terangkat membentuk senyum kecil.
“Sa pulang,” mata Grasella menyapu ruangan, “Bapak mana, Ma?”
Riak keterkejutan sempat melintas di wajah mama, sebelum perlahan luruh menjadi senyuman. “Bapak bikin dinas di luar ke pedalaman, Sel. Mungkin beberapa minggu baru pulang.”
Grasella hanya mengangguk. “Mama ingat om, tra? Sa melihat namanya di dokumen yang sa baca.”
Mama tak menjawab, tangannya terus melipat pakaian dengan gerakan yang mendadak kaku.
“Sa cuma ingin tahu lebih banyak soal tragedinya, Ma. Untuk riset sa di ELSHAM—“
“Ko datang dari Australia cuma ingin menginterogasi Mama soal masa lalu?”
Getaran di suaranya membuat tangannya seketika berhenti. Grasella tersentak kecil. Namun, memilih untuk menelan kata-katanya. Mungkin mama hanya enggan membuka luka yang ditinggalkan nestapa adiknya.
***
Kamis, 6 Juli 2000.
Pukul 04:50
Keheningan malam di rumah dinas itu terasa begitu pekat, hanya diselingi suara jangkrik di luar jendela. Grasella terbangun dengan tenggorokan yang kering. Saat melangkah menuju dapur untuk mengambil air, langkah kakinya mendadak lumpuh di ambang pintu.
Di atas meja makan yang gelap, mama duduk sendirian di bawah temaram lampu dengan dua cangkir teh di atas meja. Di samping cangkir itu, tas ransel Grasella—setengah terbuka memperlihatkan ujung map abu-abu milik ELSHAM—sengaja ditarik keluar. Kini, diraba perlahan oleh tangan mama yang gemetar berkerut.
“Mama, ko bikin apa?”
Bahu mama terguncang hebat. Ia menoleh, memperlihatkan mata tuanya yang sembap dan basah oleh air mata yang telah ditahannya sejak sore.
Ia buru-buru menarik tangannya dari halaman itu, tetapi terlambat. Grasella sudah melangkah mendekat dan melihat bagian-bagian yang terbuka. Di keterangan foto terlihat: “Aparat gabungan berjaga di sekitar Menara Air, 6 Juli 1998.”
Pandangan Grasella berhenti pada salah satu sosok dalam foto. Wajahnya buram, tertutup asap yang mengepul di antara barisan massa. Namun, pada saku seragamnya, tersemat lambang merah putih yang ia kenal sedari kecil.
Jantungnya seketika berdegup asing.
“Ini… bapak?”
“Jangan tulis nama bapak, Nak.” Getar suara mama menembus sunyi dapur, tangannya mencengkeram tepi map seakan masih bisa menariknya kembali.
“Ko tra beri tahu sa tentang ini?”
Mama terdiam sejenak, “Kalo mama beri tahu, ko akan tulis namanya! Orang tra akan percaya kenapa dia ada di situ!” Mama bangkit setengah dari kursinya.
Ia melirik pada lambang merah putih di seragamnya. “Kalo dia orang baik-baik, kenapa takut?”
Mama terdiam sejenak, dadanya naik turun menahan isak. Air mata runtuh di pelupuknya. “Karena dunia tra akan membaca hati bapak, Sella.” Suaranya pecah
“Dong harus lihat semuanya di balik lambang merah putih itu!”
Mama menggeleng cepat, “Mama su kehilangan adik. Mama tra mau kehilangan suami cuma karena ko mau menyelamatkan orang-orang yang bahkan tra tahu nama ko.”
Grasella mengeluarkan napasnya yang bergetar, pandangannya jatuh ke dua cangkir teh yang bersebelahan. “Bapak di mana, Ma?”
Mama menunduk. Tangannya jatuh lemas dari tepi map, membiarkan Grasella menggenggam sepenuhnya. “Dia di luar.”
Pukul 04:55
Air mata mulai menggerus kedua pipinya. Begitu ia melangkah melewati pintu belakang rumah, baru arang dan ikan bakar yang akrab dengan masa kecilnya menyusup ke lubang hidungnya.
Bau asap itu menuntun langkahnya kakinya menuju tempat asalnya. Angin Timur Laut bertiup kencang, membuat ombak menggulung kasar menghantam pasir pantai yang basah.
Lalu, di samping perahu kayu tua yang terombang-ambing, seorang pria paruh baya duduk menyendiri menghadap laut yang kelam. Kaus kutang putihnya kusam, pundaknya yang dulu tegap kini melorot runtuh.
Grasella terhenti beberapa langkah di belakangnya. Amarah yang telah ia pendam sejak dini hari bergejolak di dadanya, nyaris tumpah menjadi tuntutan atas penjelasan yang selama ini berhak ia dapatkan sebagai seorang anak.
Namun, pandangannya jatuh pada perahu di samping bapak—kosong—tidak sehelai merah putih pun berkibar di ujungnya. Di sampingnya, bapak membakar ikan hingga kulitnya perlahan menghitam.
Dadanya sesak seketika, amarahnya luruh entah ke mana.
“Asapnya condong ke barat, Bapak.” Ucap Grasella, suaranya bergetar hebat melawan deru ombak. “Tanda Timur Laut su mulai bicara. Sore nanti ombak tra main-main punya, tinggi betul.”
Bapak tersentak dan perlahan menoleh. Matanya sekarang terlihat redup dan ketakutan melihat anak perempuannya berdiri di hadapannya.
“Sella…” Ia menarik tangan yang menggenggam sebuah kertas dari pemandangan Grasella. “Bapak gagal. Bapak seharusnya tra ada di situ.”
“Tapi Bapak pakai seragam itu, kan?”
“Iya,” ia menelan ludah, kalimat berikutnya seakan tersangkut di tenggorokan. “Bapak takut dikata khianat, takut dipecat dari dinas. Tapi malam itu, Bapak cari cara supaya om ko bisa keluar dari sana.”
Grasella hanya menatapnya, lalu menyorot matanya pada kertas halaman—berisi inisial-inisial aparat yang berjaga—kini di tangan bapak sendiri, lecek karena digenggam terlalu erat. Ia melangkah maju, perlahan duduk bersimpuh di samping bapak.
“Kalo begitu, sa tulis nama bapak.” ucap Grasella.
"Jangan," suaranya gemetar, "Sa tra tahu apa yang dong akan bikin kalau nama itu kaluar."
"Tapi Bapak punya lambang merah putih di seragam ko. Bapak orang baik-baik, kan?"
Bapak diam. Matanya menyapu perahu kosong di sampingnya—tempat bendera dulu selalu berkibar—sebelum kembali menatap Grasella. Senyumnya pahit getir, diikuti air mata yang menggerus pipinya.
"Tulis sa punya nama di situ, Sella." Bisiknya parau, tenggelam oleh deru ombak pantai. Halaman itu kembali ke tangan Grasella.
“Mama su kehilangan adiknya,” jawab Grasella. “Kalo sa tulis, Bapak bisa dipenjara.”
“Sa tahu.”
Grasella menggenggam halaman itu erat. Ia ingin merobeknya, menyembunyikannya, mungkin menghapus nama yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari catatan tentang kematian omnya. Namun, ia tahu, ia tidak bisa meminta bapak diselamatkan dengan cara yang sama ketika omnya dulu tidak pernah diselamatkan.
Perlahan, senyuman tipis dan pasrah muncul di wajah Grasella.
Di bawah langit fajar, tanggal 6 Juli pukul 05.00, kelam kematian om dua tahun yang lalu akhirnya menemukan titik terang di atas pasir Pantai Saramom. Angin Timur Laut bertiup terlalu keras untuk perahu kecil seperti kita.