Kembali ke Daftar Berita
Kegiatan

Dari Kaki Gunung Halimun Salak, Kader Hizbul Wathan SMAMDuma Diuji Mental dan Iman

Admin SMAM 25 24 Jun 2026 14 Dilihat 0 Dibagikan
Bagikan: X
Dari Kaki Gunung Halimun Salak, Kader Hizbul Wathan SMAMDuma Diuji Mental dan Iman

SMAMDuma — Dua hari lamanya, 15 anggota Dewan Kerabat Hizbul Wathan SMAMDuma harus berjibaku dengan medan alam terbuka di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Bogor. Bersama tiga guru pendamping, mereka mengikuti Kemah Dewan Kerabat pada 22–23 Juni 2026 — sebuah agenda tahunan yang jauh dari kata santai, namun justru di situlah letak nilainya.

Jauh dari kelas dan rutinitas sekolah, para peserta ditempa lewat rangkaian kegiatan padat: mulai dari praktik keterampilan kepanduan, simulasi bertahan hidup di alam bebas, penjelajahan hutan, hingga forum diskusi seputar keorganisasian. Semua dirancang bukan untuk mencari yang tercepat atau terkuat, melainkan untuk membentuk kader yang tangguh secara fisik sekaligus matang secara karakter.

Ketika Alam Jadi Ruang Kelas

Guru Pembina Hizbul Wathan SMAMDuma, Bayu Ajy, menuturkan bahwa kemah ini sengaja dirancang agar peserta memahami langsung peran dan tanggung jawab sebagai pengurus organisasi, bukan sekadar teori di atas kertas. Menurutnya, belajar di alam terbuka memberi pelajaran yang tidak bisa didapat di ruang kelas — soal kedisiplinan, keberanian mengambil keputusan cepat, dan pentingnya saling mengandalkan sesama anggota tim.

Nilai-nilai itu sejalan dengan semangat Hizbul Wathan sebagai gerakan kepanduan Muhammadiyah, yang tidak hanya membentuk fisik yang kuat, tetapi juga akhlak yang baik dan kepedulian terhadap sesama.

Bukan Sekadar Fisik, tapi Juga Akidah

Di sela padatnya agenda kepanduan, peserta juga dibekali materi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai penguat fondasi keimanan. Guru ISMUBA SMAMDuma, Irsyad Fikri, yang turut mendampingi kegiatan menyampaikan bahwa penguatan akidah menjadi bekal penting bagi kader muda di tengah derasnya arus budaya dan teknologi saat ini.

Baginya, kepanduan dan keimanan semestinya berjalan beriringan — keterampilan bertahan hidup di alam terbuka semestinya juga dibarengi dengan kekuatan iman yang membentuk arah dan tujuan dari kepemimpinan itu sendiri.

Suasana pegunungan yang tenang turut menjadi ruang refleksi tersendiri bagi para peserta, bukan hanya soal strategi bertahan hidup, tetapi juga cara memaknai kebesaran alam ciptaan Allah SWT sekaligus mempererat persaudaraan antarkader.

Bekal untuk Regenerasi Kepemimpinan

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAMDuma, Arif Budianto, mengapresiasi terlaksananya kegiatan ini dan menyebutnya sebagai bagian penting dari proses regenerasi kepemimpinan siswa. Ia berharap dari kemah ini lahir kader-kader yang tak hanya cakap secara teknis kepanduan, tetapi juga berpegang teguh pada nilai-nilai Muhammadiyah dalam menjalankan peran kepemimpinannya kelak.

Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi bersama seluruh peserta, menjadi ruang evaluasi sekaligus penguatan komitmen sebelum memasuki babak baru: persiapan pelantikan kepengurusan Dewan Kerabat periode berikutnya.

Dari rimbunnya hutan Halimun Salak, satu pesan tersirat jelas — kepemimpinan sejati tidak lahir dari ruang nyaman, melainkan dari keberanian menghadapi tantangan sambil tetap berpegang pada nilai dan keimanan.