Kembali ke Daftar Berita
Prestasi

Terpilih Menjadi Sekolah Rintisan Pengembangan Ekstrakurikuler dan Karier Murid, SMAM DUMA Perkuat Pembinaan Berbasis Potensi

Salman A. Ridwan 15 Aug 2026 524 Dilihat 0 Dibagikan
Bagikan: X
Terpilih Menjadi Sekolah Rintisan Pengembangan Ekstrakurikuler dan Karier Murid, SMAM DUMA Perkuat Pembinaan Berbasis Potensi

PAMULANG — Di SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang (SMAM DUMA) ekstrakulikuler tidak hanya dipandang sebatas kegiatan tambahan di luar pembelajaran kelas. Setelah terpilih menjadi salah satu sekolah dalam Program Rintisan Pengembangan Ekstrakurikuler dan Karier Murid SMA yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sekolah itu siap mengembangkan pembinaan yang menghubungkan minat, bakat, keterampilan, dan pilihan masa depan murid.

Terpilihnya SMAM DUMA menjadi sekolah rintisan ini merupakan bentuk amanah untuk membangun pembinaan ekstrakurikuler dan karier secara lebih terarah, mulai dari pemetaan potensi murid, perencanaan program, pelaksanaan, hingga evaluasi.

Saat ditemui (12/08/2026), Kepala SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang, Dr. Hartono Rahimi, M.A., menyatakan bahwa keterpilihan itu merupakan bentuk kepercayaan sekaligus tantangan bagi sekolah untuk menyiapkan sistem pembinaan yang lebih menyeluruh.

“Terpilihnya SMAM DUMA sebagai sekolah rintisan ekstrakurikuler dan pengembangan karier ini menjadi tantangan yang khusus untuk mempersiapkan konsep dan aksi dari hulu ke hilir, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Kita berharap sekolah dapat mempersiapkan semua ini sebaik mungkin sebagaimana kita juga mempersiapkan program intrakurikuler kita,” ujar Hartono.

Menurut dia, pengembangan ekstrakurikuler membutuhkan kesiapan yang tidak kalah serius dibandingkan program pembelajaran intrakurikuler. Karena itu, keterpilihan dalam program rintisan tersebut menjadi momentum bagi sekolah untuk menata pembinaan agar kegiatan yang diikuti murid tidak berhenti pada aktivitas rutin, tetapi ikut membentuk kompetensi dan arah pengembangan diri.

Ekstrakurikuler menyediakan ruang bagi murid untuk mengembangkan kemampuan yang tidak selalu terlihat melalui capaian akademik. Olahraga, seni, organisasi, kepemimpinan, dan berbagai aktivitas keterampilan, misalnya, memberi pengalaman kepada murid untuk bekerja sama, berkomunikasi, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, sekaligus belajar bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.

Di ruang-ruang itulah potensi murid dapat dikenali dan dikembangkan. Pengalaman yang diperoleh selama mengikuti ekstrakurikuler juga dapat menjadi bagian dari proses murid memahami kekuatan dirinya sebelum menentukan pilihan pendidikan dan karier setelah lulus SMA.

Menghubungkan Minat dengan Masa Depan

Pengembangan karier di sekolah pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang profesi yang ingin dipilih murid. Proses tersebut dimulai dari kemampuan mengenali diri, memahami minat dan kekuatan, mengeksplorasi pilihan pendidikan, serta memperoleh pengalaman yang relevan dengan rencana masa depan.

SMAM DUMA sebelumnya telah memiliki sejumlah kegiatan yang mendukung proses tersebut. Salah satunya melalui program Goes to Campus, yang memberikan kesempatan kepada murid untuk mengenal lingkungan perguruan tinggi sekaligus memperoleh gambaran mengenai program studi dan pilihan pendidikan setelah menyelesaikan jenjang SMA.

Sekolah juga secara rutin menyelenggarakan Edufair dengan menghadirkan berbagai institusi pendidikan dan alumni. Melalui kegiatan tersebut, murid memperoleh informasi mengenai perguruan tinggi, jalur masuk, beasiswa, serta berbagai kemungkinan pendidikan dan karier yang dapat dipertimbangkan.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi modal awal bagi sekolah untuk mengembangkan pembinaan karier secara lebih terintegrasi. Pengalaman murid dalam ekstrakurikuler dapat dipertemukan dengan proses pengenalan minat, kemampuan, dan aspirasi mereka.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAM DUMA, Arif Budianto, mengatakan pembinaan ekstrakurikuler semestinya tidak hanya diukur dari jumlah piala atau kemenangan dalam kompetisi. Menurut dia, proses yang berlangsung selama kegiatan justru menjadi bagian penting dari pembentukan kemampuan murid.

“Ukuran keberhasilan ekstrakurikuler bukanlah semata-mata terletak pada prestasi kompetisi. Proses pembinaan juga sangat penting karena di dalamnya para murid belajar untuk mengasah bakat dan keterampilan individu,” ujar Arif.

Pandangan tersebut menempatkan prestasi sebagai salah satu hasil dari proses pembinaan, bukan satu-satunya tujuan. Murid yang mengikuti kegiatan olahraga, seni, organisasi, maupun bidang keterampilan lainnya memperoleh pengalaman yang dapat membentuk disiplin, daya juang, kreativitas, kepemimpinan, dan kemampuan bekerja dalam tim.

Menjadi Ruang Pengembangan

Tantangan SMAM DUMA setelah ditetapkan sebagai sekolah rintisan adalah memastikan program tersebut tidak berhenti pada label atau status sebagai sekolah terpilih. Keterpilihan itu perlu diterjemahkan menjadi sistem pembinaan yang dapat dirasakan langsung oleh murid.

Salah satu langkah penting ialah memetakan minat dan bakat murid secara lebih terarah. Pemetaan tersebut dapat menjadi dasar bagi sekolah untuk melihat kesesuaian antara pilihan ekstrakurikuler, kemampuan yang sedang dikembangkan, serta kebutuhan pengembangan diri setiap murid.

Evaluasi kegiatan dan peningkatan kualitas pembina juga menjadi bagian penting. Dengan demikian, sekolah tidak hanya mengetahui kegiatan apa yang diikuti murid, tetapi juga dapat melihat perkembangan kompetensi yang mereka peroleh dari kegiatan tersebut.

Pendekatan berbasis potensi menjadi penting karena kemampuan murid tidak selalu tercermin dalam nilai akademik. Seorang murid mungkin menemukan kekuatannya ketika memimpin organisasi, tampil di panggung, berkompetisi di bidang olahraga, bekerja dalam sebuah tim, atau mengembangkan keterampilan tertentu secara konsisten.

Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan bagi murid untuk mengenali dirinya sendiri. Pada tahap berikutnya, pengenalan itu dapat dipertemukan dengan informasi mengenai pilihan pendidikan dan kebutuhan dunia kerja sehingga perencanaan masa depan tidak sepenuhnya dibangun berdasarkan perkiraan.

Dengan demikian, program rintisan yang diselenggarakan oleh Kemendikdasmen ini membuka kesempatan bagi SMAM DUMA untuk membangun ekosistem pembinaan yang lebih utuh. Pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman murid ketika berorganisasi, berlatih, berkarya, berkompetisi, dan berinteraksi dengan lingkungan.

Upaya itu sejalan dengan semangat “Bahagia, Ramah, Berkemajuan” yang menjadi arah pendidikan SMAM DUMA dalam membentuk murid yang bertakwa, berakhlak mulia, unggul, terampil, dan memiliki daya saing.

Dengan terpilihnya sebagai sekolah rintisan, SMAM DUMA tidak hanya berhenti pada pertanyaan tentang kegiatan ekstrakurikuler apa yang dimiliki sekolah. Tetapi, tantangan yang lebih besar adalah bagaimana setiap kegiatan mampu menjadi ruang bagi murid untuk mengenali dirinya, mengembangkan kompetensinya, dan menemukan kemungkinan masa depannya.

Di titik itulah ekstrakurikuler akan selalu menjadi bagian dari perjalanan murid untuk mengenali potensi, membangun kemampuan, dan menyiapkan pilihan hidupnya. (*)